January 31, 2015

Sejarah dan Pandangan Bangsa Mesir Terhadap Kucing



Legenda kucing dan sihir berasal di Mesir kuno. Kucing dipuja di Mesir kuno, dikutuk, dan telah dianggap memiliki koneksi ke alam lain. Kucing dianggap sebagai penjelmaan dewi dan diperlakukan seperti itu.

Di Mesir kuno, kucing dihormati sebagai pemburu yang besar dan berguna untuk mengusir tikus. Kucing sendiri tidak disembah, namun kota kuno Bubastis yang terletak di timur laut Kairo sepanjang Sungai Nil, berasal dari Bast-dewi kucing.Dewi ini sering digambarkan sebagai kucing, dan banyak orang Mesir kuno yang percaya bahwa kucing piaraan mewakili dewi kesuburan dan perlindungan. Oleh karena itu kucing di Mesir kuno memiliki hak istimewa dibandingkan hewan peliharaan rumah tangga lainnya.

Ada dewa-dewa lain di Mesir kuno yang memiliki bentuk kucing, namun mereka umumnya digambarkan sebagai memiliki kepala singa betina (misalnya Sekhmet-dewi perang).Hal ini diyakini kota Bubastis sangat mempercayai kucing sebagai dewi mereka secara keseluruhan. Hal ini dibuktikan dengan banyak patung dan representasi kucing di antara reruntuhan kota ini, serta reruntuhan kuil yang dibangun untuk menghormati Bast itu. Banyak makam-makam Mesir mumi kucing dikuburkan bersama dengan orang di sana yang menunjukkan kepercayaan terbesa mereka sebagai terhadap kucing sebagai dewi pelindung. Perempuan akan berdoa kepada dewi harian untuk berkat-berkat kesuburan bagi keluarga mereka. Bastet adalah bentuk umum dari kucing anggun ramping, atau setengah manusia dan setengah kucing.

Banyak orang mempercayai, anak kucing pertama kali dipelihara oleh manusia (didomestikasi) pada awal kebudayaan mesir kuno. Pada zaman tersebut kucing telah menyelamatkan kehidupan banyak orang dari kelaparan akibat serangan tikus. Mitos Dewi Bast muncul dari kekaguman manusia terhadap kucing sebagai hewan kesayangan. Bast adalah anak dari dewa matahari Ra dan banyak berperan penting dalam kepercayaan mesir kuno. 


Beberapa ahli sejarah menduga kucing yang hidup di pulau Kenya yang terletak di kepulauan Lamu adalah keturunan terakhir langsung dari kucing Mesir kuno yang masih hidup hingga saat ini. Beberapa kepercayaan kuno mempercayai kucing sebagai perwujudan dari jiwa/roh yang bertugas menemani dan membimbing manusia. Mereka dianggap mengetahui tentang segala sesuatu, tetapi mereka bisu sehingga tidak dapat mempengaruhi berbagai keputusan yang diambil manusia.

Catatan paling awal tentang usaha domestikasi kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, dalam sebuah makam di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. 

Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini. Sebuah topeng perunggu digunakan dalam pemakaman mumi kucing di Mesir kuno. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.

Legenda Bast (Dewi Perlindungan)


Bast (namanya juga dieja Bast, Baast, Ubasti atau Baset) adalah dewi perlindungan dan kucing di Mesir Kuno. Ia adalah putri dari Ra, sang dewa matahari. Dewi ini dipuja semenjak masa Dinasti Kedua.
Pusat pemujaannya terletak di Per-Bast (Bubastis dalam bahasa Yunani).
Bastet digambarkan sebagai seorang perempuan dengan kepala kucing yang jinak. Namun, sampai 1000 SM ia digambarkan sebagai singa betina. Ketika Ra menghancurkan musuhnya Apep, Bastet biasanya digambarkan sebagai kucing. Ketika digambarkan sebagai kucing, dia dihubungkan dengan bulan (anaknya Khonsu adalah dewa bulan). Ketika ditampilkan sebagai singa betina, ia dikaitkan dengan sinar matahari.
Bast adalah dewi api, kucing, pelindung rumah dan wanita hamil. Menurut salah satu mitos, dia adalah personifikasi jiwa Isis. Dia juga disebut sebagai "Putri dari Timur".
Bastet seperti halnya kucing memiliki dua sisi kepribadiannya, jinak dan agresif. Dia jinak dan lembut dipandang di samping tugasnya sebagai pelindung rumah, dan wanita hamil, serta agresif karena sifat alaminya.

Kucing dan Mumi

Di pelajaran sejarah hingga di film-film Hollywood kita sering mendapati kebiasaan bangsa Mesir Kuno yang gemar melakukan mumifikasi (proses pengawetan jenazah menjadi mumi) terhadap orang-orang penting pada masa itu, seperti raja dan pendeta. Namun selain itu ternyata bangsa Mesir kuno juga melakukan mumifikasi terhadap binatang. Lalu apa fungsinya mumi binatang ini?
Mumi Binatang yang dipamerkan di museumMumi binatang di Mesir pertama kali ditemukan pada tahun 1888. Pada saat itu seorang petani Mesir secara tidak sengaja menemukan sebuah kuburan kuno saat mencangkul di ladangnya. Kuburan tersebut berisi ratusan mumi sejenis anjing yang dikubur bersama di dalam satu lubang. Sejak saat itu penelitian dan penggalian mumi binatang mulai dilakukan dengan serius.
Mumi manusia sudah jelas tujuannya yaitu agar arwah jenazah orang-orang besar tersebut bisa mencapai nirwana dengan mudah dan diterima oleh dewa. Namun rupanya tujuan membuat mumi binatang agak berbeda.
Pada umumnya binatang yang dijadikan mumi adalah kucing, kerbau, kera dan buaya. Proses mumifikasinya juga berbeda dengan mumi manusia.
Proses mumifikasi manusia mengharuskan organ-organ dalam seperti jantung dan hati untuk dikeluarkan terlebih dahulu agar mumi menjadi lebih awet dan tidak membusuk. Sedangkan pada proses mumifikasi binatang, hal tersebut tidak dilakukan.
Menurut para ahli arkeologi tujuan utama mumifikasi binatang ini dibagi menjadi 4, yaitu : 

1. Binatang Peliharaan
Orang Mesir kuno sangat sayang kepada binatang peliharaan mereka. Di beberapa dokumen kuno ditemukan fakta bahwa mereka juga memberi nama hewan peliharaan, sama seperti kita pada masa kini. Saking sayangnya, saat binatang tersebut mati, sang pemilik rela mengeluarkan dana untuk melakukan mumifikasi terhadap binatang tersebut yang akan dikubur bersama mereka kelak ketika sudah meninggal. Tujuannya? Ya untuk menemani di alam baka. Ada-ada saja, ya?

2. Persediaan Makanan di Alam Baka
Orang Mesir percaya adanya hidup sesudah mati. Mereka yakin bahwa setelah meninggal akan ada kehidupan yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan kehidupan dunia, jadi tentu saja mereka butuh makanan.
Nah itulah salah satu tujuan mereka membungkus dan mengawetkan beberapa jenis binatang yang biasa menjadi hewan buruan. Bedanya dengan mumi hewan peliharaan, daging binatang untuk bahan makanan ini dikeringkan terlebih dahulu dan sering kali sudah dipotong-potong.

3. Perwakilan Para Dewa
Kepercayaan orang Mesir kuno adalah politeisme, yakni percaya pada banyak dewa. Beberapa dewa diyakini menjelma ke dalam bentuk beberapa binatang dan hidup bersama manusia di alam dunia. Setelah binatang tersebut mati, lantas dibuat mumi agar bisa terus disembah.

4. Penawaran Terhadap Dewa
Di kuil para dewa, orang datang untuk berdoa atas berbagai macam permintaan. Orang Mesir percaya bahwa doa mereka akan lebih mudah dikabulkan apabila mereka membawa persembahan untu para dewa.
Nah mumi binatang ini adalah salah satu bentuk persembahan yang cukup populer. Para pemohon akan pergi ke kuil sambil membawa mumi binatang kurban dan meletakkannya di samping patung sang dewa.

No comments:

Post a Comment

Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon